Akibat Kebijakan Impor terhadap Ketahanan Pangan Nasional

]

Impor Pangan: Manis di Awal, Pahit di Akhir bagi Ketahanan Nasional

Kebijakan impor pangan seringkali menjadi jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan domestik yang mendesak atau menstabilkan harga pasar. Namun, di balik janji kemudahan sesaat, ketergantungan pada impor pangan bagaikan pedang bermata dua yang perlahan menggerogoti fondasi ketahanan pangan nasional kita.

Melemahnya Produksi Domestik:
Banjirnya produk pangan impor, yang terkadang lebih murah, secara langsung memukul sektor pertanian lokal. Petani kesulitan bersaing, harga jual hasil panen mereka tertekan, dan pada akhirnya minat bertani menurun. Lahan-lahan produktif pun beralih fungsi, regenerasi petani terhambat, dan inovasi pertanian lokal mandek. Ini menciptakan lingkaran setan di mana produksi dalam negeri terus melemah dan ketergantungan pada impor semakin menjadi-jadi.

Kerentanan Terhadap Gejolak Global:
Ketika suatu negara sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar, ia secara otomatis menjadi sangat rentan terhadap gejolak pasar global. Fluktuasi harga komoditas internasional, perubahan nilai tukar mata uang, kebijakan proteksionis negara pengekspor, bahkan konflik geopolitik atau bencana alam di belahan dunia lain, dapat secara drastis memengaruhi ketersediaan dan harga pangan di dalam negeri. Kita kehilangan kendali atas "dapur" sendiri, dan rakyat menjadi korban pertama saat krisis tiba.

Mengikis Kedaulatan Pangan:
Lebih dari sekadar urusan perut, ketahanan pangan adalah soal kedaulatan. Ketergantungan impor yang berlebihan mengikis kemampuan suatu negara untuk menentukan arah dan strateginya sendiri dalam menyediakan pangan bagi rakyatnya. Keputusan tentang apa yang ditanam, berapa banyak, dan bagaimana distribusinya, tidak lagi sepenuhnya di tangan bangsa sendiri, melainkan didikte oleh dinamika pasar global dan kepentingan pihak asing.

Maka, sudah saatnya kita meninjau ulang secara serius kebijakan impor pangan. Bukan berarti menolak impor sepenuhnya, melainkan menempatkannya sebagai pilihan terakhir dan bersifat sementara. Prioritas utama haruslah penguatan produksi pangan domestik melalui peningkatan produktivitas, diversifikasi komoditas, perlindungan petani, dan investasi pada teknologi pertanian berkelanjutan. Hanya dengan kemandirian pangan, kita bisa membangun ketahanan nasional yang kokoh, memastikan setiap piring di meja makan rakyat Indonesia diisi dengan hasil bumi sendiri, bukan belas kasihan dari luar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *