Studi Kasus Cedera Pergelangan Tangan Pada Atlet Tenis Dan Cara Penanganannya

]

Pukulan Terhenti: Mengurai Cedera Pergelangan Tangan Atlet Tenis

Tenis adalah olahraga dinamis yang menuntut kekuatan, kecepatan, dan presisi. Pergelangan tangan, sebagai jembatan antara lengan dan raket, memegang peran krusial dalam setiap pukulan. Namun, penggunaan berulang dan tekanan tinggi membuatnya rentan terhadap cedera. Artikel ini akan mengulas studi kasus umum cedera pergelangan tangan pada atlet tenis dan cara penanganannya.

Studi Kasus: Robekan TFCC (Triangular Fibrocartilage Complex)

Seorang atlet tenis muda, yang dikenal dengan forehand topspin bertenaga dan backhand slice yang tajam, mulai merasakan nyeri di sisi ulnar (sisi kelingking) pergelangan tangannya. Nyeri ini terasa intens terutama saat melakukan gerakan memutar raket, memukul bola dengan sudut ekstrem, atau saat menopang berat badan. Terkadang, ia juga mendengar bunyi "klik" dari pergelangan tangannya.

Diagnosis:
Setelah serangkaian pemeriksaan, termasuk anamnesis detail, tes provokatif oleh dokter ortopedi, dan MRI (Magnetic Resonance Imaging), atlet tersebut didiagnosis mengalami robekan pada TFCC. TFCC adalah struktur kompleks tulang rawan dan ligamen yang menstabilkan sendi pergelangan tangan dan menyerap guncangan. Robekan ini sering terjadi pada atlet raket akibat gerakan pronasi-supinasi dan deviasi ulnar berulang yang ekstrem.

Penanganan Komprehensif:

  1. Fase Akut (Manajemen Konservatif Awal):

    • Istirahat Total: Menghentikan semua aktivitas pemicu nyeri, terutama bermain tenis.
    • Imobilisasi: Penggunaan splint atau brace untuk menstabilkan pergelangan tangan dan mencegah gerakan yang memperburuk cedera.
    • Terapi Dingin & Obat: Aplikasi es dan pemberian obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan.
  2. Fisioterapi (Setelah Nyeri Berkurang):

    • Latihan Rentang Gerak (ROM): Dimulai dengan gerakan pasif, kemudian aktif, untuk mengembalikan mobilitas sendi secara bertahap.
    • Penguatan Otot: Fokus pada penguatan otot-otot pergelangan tangan dan lengan bawah (fleksor, ekstensor, pronator, supinator) untuk meningkatkan stabilitas dan daya tahan.
    • Latihan Propioseptif: Melatih keseimbangan dan kesadaran posisi sendi untuk mencegah cedera berulang.
    • Analisis Biomekanik: Bersama fisioterapis dan pelatih, mengevaluasi dan mengoreksi teknik pukulan yang mungkin berkontribusi pada cedera.
  3. Intervensi Lanjut (Jika Konservatif Gagal):

    • Injeksi Kortikosteroid: Dapat diberikan untuk meredakan inflamasi lokal, namun bukan solusi jangka panjang untuk robekan struktural.
    • Operasi Artroskopik: Jika terapi konservatif tidak berhasil setelah beberapa bulan, operasi minimal invasif dapat dilakukan untuk membersihkan (debridement) atau memperbaiki robekan TFCC.

Kembali ke Lapangan dan Pencegahan:

Proses kembali bermain tenis harus dilakukan secara bertahap dan terstruktur, dipandu oleh tim medis. Dimulai dari pukulan ringan, intensitas ditingkatkan secara progresif sambil memantau respons tubuh.

Pencegahan Cedera TFCC dan Pergelangan Tangan Lainnya Meliputi:

  • Pemanasan & Pendinginan: Rutin dan memadai sebelum dan sesudah bermain.
  • Penguatan & Fleksibilitas: Latihan rutin untuk otot pergelangan tangan dan lengan bawah.
  • Teknik Pukulan: Memastikan biomekanika yang benar dan efisien.
  • Peralatan Tepat: Pemilihan raket (berat, ukuran grip) dan ketegangan senar yang sesuai.
  • Istirahat Cukup: Memberi waktu tubuh untuk pulih dan beregenerasi.

Kesimpulan:
Cedera pergelangan tangan, seperti robekan TFCC, dapat menjadi penghalang serius bagi karier atlet tenis. Deteksi dini, diagnosis akurat, dan penanganan multidisiplin (dokter, fisioterapis, pelatih) yang komprehensif sangat penting untuk pemulihan optimal dan pencegahan kekambuhan. Dengan pendekatan yang tepat, atlet dapat kembali ke lapangan dengan performa terbaiknya.

Exit mobile version